Kunjungan Industri Ke Pabrik SGM Prambanan Klaten

Minggu lalu, kampusku mengadakan kunjungan industri ke pabrik SGM Prambanan, Klaten, untuk mengenal proses produksi susu SGM, PT Sarihusada dan Danone.

sarihusada prambanan
Foto pinjam dari www.beyourselfwoman.com

Waktu masih kecil, apakah kamu pernah minum susu SGM? Aku pernah karena aku anak botol. Heheheee.... Itu bukan karena ibuku malas atau nggak paham manfaat ASI ya, tapi memang ASI ibuku tidak bisa bikin aku kenyang. Rasanya bagaimana? Yah, sudah lupa.

Tadinya aku membayangkan di sana akan ada banyak sapi, terus diperas, terus diproses dan terakhir dikemas. Bagaimana kenyataannya?

SEKILAS SGM, SARIHUSADA, DANONE


Jadi, SGM itu adalah merk susu, yaitu SGM Eksplor untuk balita dan anak sampai usia 12 tahun, SGM Aktif untuk anak-anak yang aktif di luar rumah serta SGM Bunda untuk ibu hamil dan ibu menyusui. SGM diproduksi oleh PT Sarihusada Generasi Mahardika yang berada dibawah divisi Specialized Nutrition Danone.


Meski memproduksi susu bagi anak-anak, SGM menegaskan tidak akan menggantikan ASI. SGM tetap pada misi awal didirikannya tahun 1954, yaitu mewujudkan Program Kecukupan Protein Nasional yang diselenggarakan pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Ketika itu Indonesia yang sedang berusaha bangkit setelah kemerdekaan menghadapi masalah kekurangan gizi yang sangat memprihatinkan.

sgm sarihusada

Sarihusada memiliki 3 pusat penelitian, yaitu di Belanda, Singapura dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, lokasi Sarihusada ada di Muja Muju. Sedangkan yang aku datangi itu terletak di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah dan merupakan pabrik Danone yang terbesar se Asia Pasifik.

Jika teman-teman selepas sarjana ingin bekerja di sini, banyak keahlian yang dibutuhkan, antara lain akuntansi, psikologi, manajemen, gizi, MIPA kimia, teknik kimia dan masih banyak lagi. Untuk jurusan Teknologi Pertanian dan Pangan sendiri, yang banyak dibutuhkan adalah dari jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP), meski jurusan lain juga ada. Aku tidak sempat bertanya mengapa sarjana TIP lebih banyak dari sarjana Teknologi Pangan disana? Menurut mamahku, kemungkinan karena kebutuhan untuk memonitor vendor dan delivery sangat besar. Ingat ya, ini merupakan pabrik Danone terbesar se Asia Pasifik. Job description seperti itu biasanya merupakan bagian dari PPIC (Production Planning and Inventory Control) yang dipegang lulusan teknik industri. Mamahku sendiri sudah pernah jadi PPIC staff.

SGM Factory Visit


Kunjungan diawali dengan sambutan oleh mbak Dewi Ardika Sari sebagai perwakilan dari Sarihusada. Kami harus mengisi formulir dulu untuk dimasukkan ke data pengunjung pabrik sekaligus sebagai pernyataan bahwa kami cukup sehat untuk kunjungan ini. Mbak Dewi menuturkan tentang Danone yang ternyata sudah berusia 100 tahun.

Mbak Dewi juga bercerita tentang program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dijalankan oleh Sarihusada yaitu desa binaan, bantuan ke rumah sakit dan pengembangan kampung tempe. Untuk tempenya ini aku sudah pernah mencicipi. Saking higienisnya, meski masih mentah, tempenya sudah bisa dicemil. Tapi kalau mau enak, ya dimasak dulu. Keripik tempenya juga enak, ada yang rasa pedas.

pabrik sgm

Karena jumlah kami banyak, kira-kira 150 orang, kami harus masuk secara bergantian. Selain untuk keselamatan, juga agar tidak mengganggu pekerjaan. Pabrik ini beroperasi 24 jam sehari dengan 3 shift. Jadi pabrik tidak pernah tutup dan mesin selalu beroperasi. Istirahat total hanya dilakukan selama 1 jam tiap Jumat pas jam sholat Jumat.


Kami tidak masuk terlalu jauh ke dalam karena ini bukan tempat wisata. Banyak ruangan yang tidak bisa menampung semua pengunjung. Heheheee.... Untuk rombongan besar memang ada pembatasan. Namun demikian, para dosen pendamping diajak masuk ke beberapa tempat penting lain, antara lain laboratorium. Nah, enak tu jadi dosen. Ayo belajar yang giat, biar jadi dosen!

Kami sempat melihat spray drier, yaitu mesin untuk mengubah susu yang liquid menjadi powder. Detil prosesnya aku catat sih, tapi nggak perlu aku posting disini kali, ya. 

Nah, ternyata di pabrik SGM Prambanan, Klaten, itu tidak ada sapinya. Menyenangkan bisa ikut kunjungan industri ke pabrik SGM ini. Aku berharap ada kunjungan-kunjungan seperti ini lagi. Belajar di kampus jadi lebih bersemangat jika bisa melihat hubungannya dengan apa yang akan kita kerjakan setelah lulus nanti.

spacer

Kisah Inspiratif Pendiri Chockles, Sarjana Cum Laude Yang Susah Mendapat Pekerjaan

Kisah inspiratif pendiri Chockles ini seharusnya aku tulis bulan Agustus lalu. Ternyata kuliah dan main musik sangat menyita waktu, jadi baru sempat menulis sekarang. Kisah ini tentang kakak angkatan, seorang sarjana yang lulus dengan predikat cum laude tapi susah mendapat pekerjaan. Akhirnya beliau sukses punya usaha sendiri bernama Chockles yang menyajikan minuman berbahan biji kakao asli dan gula aren atau gula semut.

chockles


Untuk postingan ini, aku dibantu artikel dari Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) dan Kopma (Koperasi Mahasiswa) UGM, ya. Soalnya waktu acara yang meghadirkan pendiri Chockles itu aku masih maba culun, takut-takut mau ambil foto dan bertanya, apalagi wawancara. Jadi aku cuma diam mendengarkan dan tidak mencatat jadi banyak detil yang lupa. Aku cuma ingat intinya dan bagian kisah serunya saja.

SARJANA WIRAUSAHA


Pendiri sekaligus pemilik Chockles ini bernama Rehan Abdullah Salam, lulusan Sarjana Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada tahun 2008 dengan predikat cum laude. Yaaah... aku masih SD waktu itu. Jadi aku panggil mas atau om, ya? Beliau hadir sebagai motivator di PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru) UGM.

Jadi maba di UGM jaman sekarang tu nggak ada opspek, gojlokan atau mos. Adanya PPSMB yang isinya pembekalan, motivasi dan latihan disiplin. Tugas banyak tapi nggak mengada-ada dan bisa dikerjakan barengan. Kating yang galak tetap ada dong, namanya juga manusia. Mamahku aja galak, tapi galaknya karena sayang seperti para kating itu. Buat benerin niat kami kuliah itu untuk apa. Jangan sampai mengecewakan orangtua dan negara (bagi yang menikmati subsidi atau beasiswa).

Di kampus ada mata kuliah Kewirausahaan. Dengan mata kuliah tersebut mahasiswa yang sudah mendapatkan banyak ilmu sesuai bidangnya diharapkan tidak hanya tergantung menjadi pencari kerja tapi juga bisa menjadi penyedia lapangan pekerjaan.

Belajar dari pelaku usaha itu sangat penting bagi mahasiswa baru agar bisa mengambil sisi positifnya dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Beruntung mas Rehan mau blak-blakan tentang pengalaman pahit akibat keputusan-keputusan hidupnya. Beliau tidak menutupi kegagalan yang pernah terjadi.

Selain ilmu yang memadai, kesuksesan sebuah usaha juga didukung oleh pengalaman yang cukup. Apa jadinya jika usaha dilakukan setelah lulus, bahkan setelah menikah, yang berarti nol pengalaman? Ini menjadi tambahan pelajaran menarik bagiku yang juga bercita-cita ingin punya restoran. Sebelumnya aku sudah menulis tentang usaha makanan yang sudah sukses ketika pemiliknya masih mahasiswa, belum lulus menjadi sarjana.


Salah satu alasan aku mendaftar di Fakultas Teknologi Pertanian adalah karena aku suka industri makanan, utamanya dari hasil pertanian. Kecenderungan menjadikan makanan sehat sebagai bagian dari gaya hidup menguat. Prospeknya sangat bagus di masa depan. Lagipula, siapa sih yang tidak butuh makanan? Dengan semua hal dikaitkan dengan industri 4.0, maka Teknologi Pertanian menjadi masuk akal buatku. Tapi rupanya prospek cerah tersebut baru ditemukan mas Rehan setelah beberapa kali jatuh bangun dengan usahanya. Wuih, jangan sampai terjadi padaku. Makanya aku harus benar-benar menyimak.

Jika saya hanya mendaftar di Teknologi Pertanian selepas SMA dan tidak melirik jurusan lain sama sekali, mas Rehan diterima di fakultas tersebut sebagai pilihan ketiga. Jadi awalnya memang beliau nggak suka suka banget kuliah disitu. Tidak seperti saya yang sampai nggak hura-hura selama 3 tahun di SMA demi memburu ranking. Meski nggak suka suka amat dengan pilihannya, tapi beliau lulus dengan predikat cum laude, loh. Jadi beban juga nih buatku yang suka banget dengan jurusan ini kalau tidak berprestasi seperti beliau. Hihihiii....

Jika lulus dari salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan IPK sangat tinggi, lalu mengapa sampai sulit mendapatkan pekerjaan?

SARJANA LULUS CUM LAUDE TAPI SUSAH DAPAT KERJA


Lulus cepat dari universitas terbaik dengan IPK sangat tinggi ternyata bukan jaminan mudah mendapatkan pekerjaan ketika status sudah menikah. Ini kenyataan meski aku tak paham. Mungkin karena aku masih bau-bau maba jadi pengetahuan belum banyak. Mungkin sementara aku pegang takdir sebagai penyebab semua ini. Hehee....

Setelah menjadi sarjana, mas Rehan memang tidak lantas mencari pekerjaan tapi malah menikah lebih dahulu. Sepertinya beliau sudah sangat yakin dengan masa depannya. Ternyata pada periode itu, pengumuman lowongan pekerjaan yang tersedia di berbagai media dan group alumni mensyaratkan status single. Jika melamar terus, mungkin beliau akan dapat pekerjaan juga. Masalahnya, beliau harus segera menafkahi keluarga. Tampaknya beliau juga sudah punya gambaran tentang sebuah bisnis sehingga beliau lebih tertarik untuk segera berusaha mandiri daripada meneruskan mencari pekerjaan.

Beliau memulai dengan usaha cafe sebanyak 2 kali dan semuanya gagal. Positioning cafe waktu itu tidak semudah sekarang dimana-mana ada sampai mblusuk, bahkan dikelilingi sawah. Waktu itu cafe yang lokasinya tidak strategis akan mati seperti cafe mas Rehan yang pertama. Sekarang, asal promosi kencang, orang bisa menemukannya dengan cepat melalui online map. Belum lagi gaya hidup mahasiswa sekarang yang menjadikan cafe sebagai tempat nugas (mengerjakan tugas), rapat atau sekedar hangout. Mungkin kalau dibuatnya sekarang, bisalah buat hidup.

Dari cerita itu aku mengambil pelajaran, kalau mau nikah muda, harus sudah punya penghasilan meski sedikit. Minimal UMR kali ya? Heheee.... Jika ingin punya usaha dibandingkan berkarir di kantoran, mulailah sejak mahasiswa, jangan tunggu lulus. Tentu saja usaha yang tidak mengganggu kuliah. Meski tidak besar, paling tidak sudah punya gambaran seperti apa jika nanti lulus sarjana dan 100% terjun di bisnis tersebut. Kadang ada juga loh orangtua yang tidak mengijinkan anaknya macam-macam kecuali belajar. Kalau sudah seperti itu, ya usahanya bisa dimulai setelah lulus sarjana tapi biarkan sampai mendapat profit dulu, baru menikah. Kelihatanya mudah ya mengambil kesimpulan seperti ini. Praktiknya nggak tahu juga, sih. Hmmm.... Kan aku masih kecil heheheee....

CHOCKLES, ES COKLAT 100% BIJI KAKAO ASLI


Chockles adalah pembalik nasib mas Rehan. Tapi proses menuju suksesnya cukup panjang dan penuh perjuangan dengan konsistensi dan determinasi yang tinggi.

Pasti banyak hal istimewa sehingga UGM dinobatkan menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Salah satunya adalah memiliki dosen-dosen terbaik. Dari mahasiswa baru yang nggak suka suka amat dengan teknologi pertanian, para dosen bisa memberi pencerahan pada mas Rehan sehingga menjelma menjadi salah satu pengamal ilmu teknologi pertanian terbaik. Ternyata keyakinan akan cerahnya bisnis es coklat tersebut berawal dari ketertarikan beliau akan kuliah Kewirausahaan tentang ilmu bisnis dan bisnis gula palem. Di mata kuliah tersebut mas Rehan mendapat nilai A. 

Makanya, kalau kuliah itu jangan cuma mengincar nilai A tapi juga bagaimana penerapan ilmunya dalam kehidupan nyata. Meski tampak hanya sekedar teori, tapi banyak kuliah yang diberikan berdasarkan riset langsung oleh dosen yang bersangkutan. Dosen-dosen tersebut tidak mengerjakan tesis berdasarkan membaca literatur saja. Mereka juga riset dan hasil riset tersebut harus diuji pula. Jadi, yang mereka sampaikan itu pastilah berdasarkan kenyataan. Hanya saja karena mereka sibuk mengajar dan penelitian, sedikit sekali yang nyambi bisnis untuk mengamalkan risetnya tersebut secara pribadi.

Alat untuk mengubah gula palem menjadi gula semut juga dikenal mas Rehan dari bangku kuliah. Sampai sekarang, mas Rehan menggiling kakao dan gula semut sendiri. Gula semut itu warnanya coklat dan bentuknya seperti butiran-butiran. Yang pernah beli Chockles pasti tahu karena ditaburkan juga diatas es coklatnya sehingga memberi sensasi rasa manis yang sedap.

Perjalanan bisnis mas Rehan tidak semanis es coklat buatannya. Pertama kali membuka usaha minuman itu pakai gerobak dorong, keliling seputaran UNY dikarenakan modal sudah habis sama sekali untuk 2 cafe gagalnya dulu. Bisa ditebak, mas Rehan pun mendapat banyak cemoohan. Entah bagaimana perasaan keluarganya. Mas Rehan menutup telinga dan fokus dengan ikhtiarnya menafkahi keluarga.

Selama setahun, mas Rehan hanya melakukan 2 kegiatan setiap hari, yaitu berjualan dan melakukan percobaan untuk mendapatkan formula minuman terbaik yang membuat Chockle menjadi sangat laris. Jadi, IPK cum laude itu bukannya tanpa arti. Itu melambangkan kecerdasannya. Kesuksesan hanya butuh waktu. Lagipula, sedikit banget usaha yang langsung sukses begitu didirikan di dunia ini.

Oya, sebenarnya aku sudah jadi penggemar Chockles sejak SMP. Biasanya aku beli di Indomaret sebelah SMPN 4. Meski aku nggak sekolah disitu tapi aku selalu mampir jika akan ke rumah eyangku yang lewat sini. Tentu saja aku tidak pernah beli satu, melainkan sekeluarga beli dengan pilihan rasa masing-masing. Favoritku yang classic dan pahit. Sebenarnya ini nggak pahit yang gimana gitu loh, melainkan pahitnya coklat. Ditambah dengan blenderan es yang seger, kebayang dong nikmatnya. Anehnya, harganya murah saja! Jauh dibawah es-es coklat encer yang ada di cafe-cafe.

Mas Rehan mengatakan tidak membuka franchise. Semua cabang ada dalam pengawasannya untuk menjaga mutu. Memang benar, sudah bertahun-tahun aku dan keluarga jadi pelanggan Chockles tapi rasa dan kekentalannya tidak berubah. Tapi sekarang kami lebih sering pesan melalui Go Food. Tiap kali suasana gerah, yang terpikir langsung buka aplikasi Go Food dan pesan Chockles.

Sepertinya susah untuk meniru semangat dan ketahanan mental mas Rehan tapi aku benar-benar terinspirasi dengan kisahnya yang tak pantang menyerah. Aku janji bakal menyimak baik-baik setiap mata kuliah yang berkaitan dengan pangan sampai menemukan satu bahan atau jenis makanan yang bisa aku kembangkan. Meski aku kurang tertarik pada minuman tapi aku masih punya waktu panjang untuk belajar lebih banyak lagi.

Terima kasih sharingnya mas Rehan. Semoga sukses terus dengan bisnisnya. Aamiin.

Sumber tambahan:
https://kopma.ugm.ac.id/2018/05/25/kopma-ugm-menilik-kesuksesan-chockles/
http://kagama.co/kisah-pahit-di-balik-manisnya-chockles-gula-aren

spacer

Kisah Inspiratif Mahasiswa UGM Pemilik Kedai Kiwae

Beberapa waktu lalu, dalam mata kuliah Dasar Ekonomi dan Manajeman di jurusanku, aku mendapat tugas mewawancarai salah satu start up. Di sini aku berkesempatan untuk mewawancarai pemilik Kedai Kiwae, mas Latifriansyah Usman Ali yang juga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UGM, tentang struktur organisasi Kiwae. Namun karena itu merupakan tugas kuliah, aku tidak bisa membeberkannya di artikel ini tanpa seijinnya. Jadi, aku cerita sisi lainnya saja ya, semoga teman-teman terinspirasi dengan semangat dan kreativitasnya.

Paket Chikitos Rp 19.000,- berisi nasi, ayam, es teh dan mayonaise. Maaf es teh dan mayonaisenya kepotong.

FOOD PASSION


Mas Latif ini adalah kakak angkatanku di fakultasku, makanya aku beruntung sekali bisa berguru padanya. Meskipun wawancara tersebut merupakan tugas kuliah, tapi aku tidak hanya menganggapnya sebagai narasumber, melainkan juga sebagai guru. Guru bisnis makanan. Aku punya cita-cita mendirikan bisnis makanan sehat kelak. Ini merupakan kesempatan untuk menghubungkan antara teori yang kupelajari dari dosenku dengan praktik yang diberikan oleh kakak angkatanku. Aku bangga padamu, mas!


Sebagai mahasiswa, aku tidak ingin hanya belajar di bangku kuliah. Makanya tiap ada kesempatan menimba pengalaman langsung seperti ini, aku menyempatkan mendokumentasikannya di blog chordfood ini. Selain sangat bermanfaat buatku, aku juga berharap teman-teman bisa turut mengambil contoh dari para inspirator di bidang pangan, sesuai dengan passionku. 

STUDENTPRENEUR


Ada beberapa keuntungan menyambi usaha ketika sedang kuliah, antara lain belajar mengelola uang sendiri, belajar mandiri dan menghabiskan fase coba sana-sini. Dalam fase coba sana-sini, ada kemungkinan gagal, ada kemungkinan berhasil. Jika pun gagal, kita sudah tahu celahnya di mana sehingga kita bisa memperbaikinya terus-menerus. 

Aku tidak ingin ketika lulus cuma punya tumpukan buku tanpa tahu kegunaannya untuk apa. Penginnya sih, sebelum lulus, aku sudah mempraktekkan semua yang kupelajari di bidang pangan. Lebih senang lagi kalau bisa menjadi sarana buatku mandiri.

Kalaupun nanti aku kerja di perusahaan, bukan usaha sendiri, aku akan memiliki cara pandang yang berbeda karena sudah pernah berada di sisi pemakai bahan pangan. Misalnya nanti aku bekerja di pabrik tepung, aku bisa lebih mengerti apa yang diharapkan oleh para pengusaha makanan yang menggunakan tepung. Misalnya aku bekerja di perkebunan, aku bisa paham sayur, buah dan olahan pertanian lain seperti apa yang dibutuhkan konsumen.

Mas Latifriansyaf Usman Ali memulai usaha dari nol, tanpa bantuan orang tua atau hutang di bank. Ternyata, usaha modal semangat itu ada, tidak harus bermodalkan uang. Nah, semangat itu yang digunakan untuk mencari uang modal. Caranya bagaimana? Mas Latif memulung sampah, lo teman. Duh, aku nggak berani bertanya ke diri sendiri, mau tidak seperti itu? 

Ketika sudah terkumpul 500 ribu rupiah, tahun 2014 mas Latif mencoba berbagai macam usaha. Baru pada tahun 2017, mas Latif sukses dengan bisnis sate taichan. Keren lah, 3 tahun tidak menyerah sampai punya usaha yang cukup besar hingga beromset 80 juta per bulan. Dari jualan di pameran-pameran, mas Latif sempat punya kedai di Jl Pramuka dan Nologaten. Makanya kalau teman-teman mencari Kiwae di google map, masih menunjuk ke Nologaten, kan? Padahal sekarang sudah ada di Jl Agro.

Satu hal yang bisa diambil pelajarannya dari pengalaman mas Latif adalah jika memutuskan mengambil tema makanan populer, maka kita tidak boleh kering ide karena makanan populer itu cepat memberi keuntungan tapi juga cepat redup, digantikan oleh makanan populer lainnya. 

Ketika popularitas sate taichan menurun, mulailah mas Latif beralih ke Chikitos.

Burger Bucin. Maaf tidak bisa dikondisikan karena sudah saya gigit duluan baru ingat mau difoto. Maaf melulu ya soal foto ini? :(( Insya Allah mau belajar juga bikin foto yang bagus.

Kedai Kiwae


Kiwae terdengar seperti nama Korea, ya? Padahal itu boso Jowo, loh! Dari kata iki wae, yang artinya ini saja. Kedai Kiwae menjual Ayam Cheetos alias Chicken Cheetos atau Chikitos.

Menu yang ditawarkan menyasar ke anak muda karena kedainya dikelilingi kampus dan kos-kosan, antara lain Ayam Flamin Hot Cheetos, Ayam Original Cheetos. Ala Carte Original & Flamin Hot Cheetos dan beberapa paket hemat.

Kiwae Food juga akan membuka catering dan franchise. Jadi teman-teman yang punya acara di UGM dan UNY bisa pesan disini. Sedangkan teman-teman yang pengin belajar usaha, coba tuh mendaftar di franchise-nya.

Karena aku sudah merasakan Chikitos jadi aku bisa cerita kalau ayamnya itu besar dan enak. Waktu itu aku beli paket ayam, nasi, dan es teh seharga Rp 19.000,-. Aku pikir kalau ayam dibalut remah seperti itu pasti yang banyak remahnya dan bagian dalam ayamnya memiliki tulang yang besar. Ternyata enggak, lo. Dagingnya itu memang banyak.

Letak Kiwae sangat strategis, yaitu di bunderan selokan Mataram - Perikanan Universitas Gadjah Mada. Itu tuh, kalau teman-teman kos di daerah Gayamsari, lurus aja ke selatan ke arah Perikanan, Kehutanan dan Pertanian. Sebelum sampai bunderan dan menyeberang, belok kiri saja ke Kedai Kiwae yang pas berada di pojokan jalan. Petanya ada di bawah ini ya, yang ada tanda panah merah. Entahlah ini kok nggak muncul di google map. Tapi pesan online bisa kok, malah sering promo.


Kedai Kiwae
Jl, Agro No.3, Catur Tunggal, Depok, Sleman
Utara Fakultas Perikanan UGM
Whatsapp: 081-3931-33973
Buka: Senin - Sabtu jam 10.00 - 22.00
Bisa Go Food dan Grab Food
Instagram: @kiwaefood

Kepoin saja akun instagramnya itu karena sering ada promo ojek online. Kalau kalian upload foto menu Kiwae di instagram ada kemungkinan dipilih untuk mendapatkan hadiah lho. Minggu lalu aku mendapat gratis burger bucin. Senangnya, buat makan siangku di kampus. 

INSPIRING FOODPRENEUR


Beda dengan awal usaha dulu, mas Latif sekarang tidak mau sekedar mengejar uang. Ia ingin agar bisnisnya ini diakui, menyebar dan bermanfaat bagi masyarakat yang lebih luas. 

Mas Latif pernah menyabet juara 2 Kompetisi Mahasiswa tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Mas Latif juga menjadi mahasiswa pertama yang berhasil masuk 10 besar Foodstartup Indonesia 2018 bareng brand-brand besar di bidang produk makanan.


Dengan berkembangnya usaha tersebut, mas Latif bisa membuka banyak lapangan kerja seperti chef dan waiter. Selain itu, mas Latif juga bekerjasama dengan petani dan peternak. Secara tak langsung juga memberi keuntungan ke mas-mas ojek online, kan. Tak lupa kegiatan lain di luar bisnis seperti sosial dan kajian juga diadakan untuk keseimbangan hidup

Sekarang mas Latif dibantu 3 temannya dan mendapat dana bantuan pengembangan dari Program Wirausaha Mahasiswa UGM. Jadi teman-teman, ternyata kalau kita mau berusaha, pasti ada saja jalannya. Teman-teman yang tidak kuliah di UGM, coba telusuri website kampus kalian atau tanya langsung ke bagian kemahasiswaan. Aku yakin, kampus-kampus pasti siap membantu mahasiswanya yang mau bekerja keras.

Sumber tambahan:
https://krjogja.com/web/news/read/106085/Dari_Memulung_Mahasiswa_UGM_Kreasikan_Makanan_Hits_Chicken_Cheetos


spacer

Chicken Breast Recipe With Calorie Notes

Many chicken breast is recommended by nutritionists as a protein source for healthy food or diet menus. This is one of them.

chicken breast recipe

The best chicken breast is skinless and still fresh. But if you have to keep it in the refrigerator, cut into pieces according to the eating portion first, then put it into the refrigerator. 75 grams per serving is enough for those with moderate activity. Chicken breast does not need to be washed before entering the refrigerator. If you are going to cook it, soak it in water without removing it from the storage container. After melting, wash, drain, then cook it.


In this recipe, chicken breast is covered with stew seasoning that can be bought at the supermarket. You can use another marinade. After that, cook it on the burner pan. Because the chicken breast already has a taste, no need to use sauce. We recommend that you reduce the use of sauce.

The complement of this recipe is 1 boiled potato, 3 cherry tomatoes and 2 lettuce leaves. To save cooking gas, some potatoes can be cooked at the same time to supply 2-3 days, but no more than that. Store the cooked potatoes in the refrigerator.

chicken breast menu calorie

The calorie content in one chicken breast recipe dish is 194 calories, consisting of:
  • Chicken breast 125 calories
  • Potatoes 87 calories
  • Cherry tomatoes 2 calories
  • Lettuce leaves 4 calories



The calorie content is enough for moderate activities and not excessive for those who are on a diet. Nowadays, many applications can help calculate the calories of our food. Choose who has a local food database.

For more details, see the video below.



Good luck! Hopefully you are always healthy.

spacer

7 Most Wanted Eid Al-Fitr Foods And Drinks In Indonesia

Indonesia has many tribes and is separated on many islands. However, as a Muslim-majority country, there are several types of food that are most served in Indonesia during Eid al-Fitr.

1. Ketupat


ketupat


There is no Eid without Ketupat. Ketupat is the most wanted dish during Eid in Indonesia. Actually Ketupat is also known in other countries in Southeast Asia. In several cities in Indonesia, ketupat is not only served during Lebaran but also is a daily meal, for example as a complement to satay padang and kupat tahu. Ketupat is made from rice wrapped in young coconut conut leaves and steamed for hours.

2. Opor Ayam


opor ayam


Opor ayam or chicken Opor is a complement to ketupat. Chicken Opor can be consumed everyday as well.chicken opor is made from chicken, coconut milk, red onion, garlic, candlenut, bay leaves, galangal, lemongrass, ginger, coriander, pepper, turmeric, lime leaves, brown sugar, sugar, salt and fried onions. Sometimes they also put boiled eggs.

Read: The Benefits Of Fasting In Ramadan


3. Sambal Goreng


sambal goreng


Sambal Goreng is eaten with ketupat and opor ayam. The flavor of the sambal goreng is slightly spicy as the name suggests. Sambal goreng is made from fried potatoes, galangal, bay leaves, lemongrass, lime leaves, red chili, red onion, garlic, pecan, salt and sugar. Chicken liver and gizzard are most widely used in addition. But there are also those who add shrimp, meat or tiny meatballs. There are two kinds of sambal goreng, wet and dry.

4. Gulai


gulai


Gulai is similar with curry but lighter. Gulai is almost the same as opor, except that the flavor is sharper. Gulai is more popular outside Java than Opor. Gulai spices are almost the same as opor but are added with chili. While the main ingredients are tailored to local taste, whether choosing meat, chicken or jackfruit.

5. Cookies


kue kering


In the middle of Ramadan, mothers are busy making cookies for Eid. For those who don't want to make their own cookies, can just order or buy it. Cookies are the most tempting business during Ramadan. The most legendary cookies are Kastengel and pineapple tarts. Lately, there are always snow princess cookies. There are also cookies which are presented according to the trend at that time such as matcha cookies, fruit cookies, caterpillar cookies and so on.

Read: Ruwahan, Javanese Tradition In Welcoming Ramadan

6. Drinks


carica


ndonesian houses usually serve packaged mineral water and warm tea to entertain guests. But in the Lebaran moment they serve very diverse drinks. There are fruit ice, ice syrup and bottled drinks. People in Sumatra like canned beverage such as soft drinks and grass jelly. Whereas people in Java like drinks in smaller packages, such as apple drinks in a cup.

7. Traditional snacks


joyo roti


The diversity of Indonesia is obliged to appear in Eid to treat the nostalgic feelings of relatives or friends. There are rengginang, madu mongso from East Java, kembang goyang from Betawi, kacang tojin from West Sumatra, lepet from East Java and many more.

spacer

Cobain Fuji X-T 100 Di Malioboro Explore

Beberapa waktu lalu kami ikut Malioboro Explore yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB), Fuji Film Yogyakarta dan Gudang Digital.

malioboro explore


Fuji Film Yogyakarta


Teman-teman pasti sudah akrab dengan nama Fuji meski belum pernah memegang kameranya kan? Aku juga belum pernah, padahal eyang kakungku dulunya penggemar fotografi sampai punya kamar gelap segala. Kamera favoritnya Fuji. Sayang semua sudah tidak berbekas sekarang. Apalagi eyangku sudah tidak bisa beraktivitas fisik yang berlebihan. Kalau tahu bagaimana makin canggihnya kamera Fuji sekarang, eyangku pasti takjub banget. Fotografi bisa semudah ini.

Yang namanya Fuji X-T 100 ini mudah banget dipahami. Padahal aku baru pertama kali pegang. Kalau mamaku memang agak lama paham, bahkan aku harus beberapa kali membantunya mengerti apa yang diajarkan om Agoeng Tosol dari Fuji Film Yogyakarta. Tapi itu bukan salah kameranya. Mamaku aja yang suka bingung. Hihiii.

fuji film yogyakarta


Baca juga: Hang Out At Gudang Kopi Yogyakarta

Kantor Fuji Film Yogyakarta ada di Yap Center Jl. C Simanjuntak, Yogyakarta. Kompleks ini saling membelakangi dengan Rumah Sakit Mata Yap yang pintu masuknya di Jl. Cik Di Tiro. Mungkin satu pemilik ya makanya punya nama yang sama. Aku baru pertama kali masuk kompleks ini. Biasanya cuma di bagian depan untuk membeli peralatan outdoor. Kalau ke rumah sakit matanya sih rutin. Heheheee.

Kantor Fuji ini tidak hanya untuk menjual kamera. By the way, kamera Intax nya lucu-lucu loh warnanya. Kayak punya selebgram-selebgram remaja. Di sebelah kantor Fuji kita bisa belajar fotografi juga. Jadi nggak ada tuh beli kamera secanggih Fuji X-T 100 tapi disetting auto saja. Kan sayang.

Cobain Fuji X-T 100

fuji xt 100


Fuji X-T 100 ini kamera mirrorless, jadi fitur dan modenya sangat memudahkan dan modern. Kuncinya, teman-teman harus sering-sering mengeksplor fitur dan modenya tersebut. Jangan takut salah seperti mamaku. Kalau jelek tinggal dihapus saja dan jepret lagi, lalu jepret terus berkali-kali. Kalau bingung mengembalikan atau mengubah setting kamera, ada user's guide nya kok. Kalau masih bingung juga, datangin saja kantor Fuji nya buat minta diajarin.

Di acara itu, om Agoeng menjelaskan penggunaan Fuji X-T 100 dengan dibantu monitor TV besar sehingga jelas apa saja yang diubah. Di ruangan itu aku mencoba berbagai mode dan filter, antara lain filter fish eye dan partial color (red). Dua filter ini sempat populer di kalangan remaja.

Dengan berbagai mode dan filter, foto kita akan lebih bervariasi, tidak membosankan, untuk konten instagram dan blog.

cobain fuji xt 100


Cobain Fuji X-T 100 Di Malioboro Explore


Setelah mengerti cara menggunakan kamera Fuji X-T 100, kami diajak berburu foto di Malioboro. Di Malioboro, kami didampingi om Ardian dan om-om lainnya. Supaya gampang ditandain, omnya pakai kaos hitam semua. Omnya banyak dan baik-baik. Heheheee. Biar begitu, tapi aku enggak berani tanya. Mamaku aja yang bolak balik tanya. Hadeh.

Baca juga: The Benefits Of Fasting In Ramadan

Tema huntingnya adalah senyum Ramadan dan dilombakan. Aku enggak berani foto wajah orang dewasa yang tidak dikenal, takut orangnya marah. Tapi kalau anak-anak aku berani dan suka ekspresi mereka. Jadi aku foto anak-anak dan lainnya saja. Sayang, anak-anaknya tidak ada yang senyum, jadi aku tidak menang. Tapi tak apa, aku senang punya pengalaman seperti itu. Foto-fotoku sudah aku upload di instagram @chordfood.id ya, jadi tidak aku upload lagi disini. Follow aja!

Setelah selesai memotret, kita tidak perlu pusing mencari laptop untuk mentransfer foto lalu dipindah lagi ke ponsel jika mau diposting di instgram. Cukup download aplikasi Fuji Film Camera Remote di Play Store untuk ponsel android, maka foto-foto yang sudah kita hasilkan bisa langsung berpindah ke ponsel dengan bluetooth untuk diedit atau langsung diunggah di instagram. Oya, untuk editing juga tak harus di ponsel tapi bisa langsung di kameranya. Caranya, sewaktu memotret gunakan format raw.



Di acara ini aku peserta termuda. Peserta lain sudah mbak-mbak dan emak-emak. Besok lagi kalau ada acara seperti ini, kalian yang seumuran denganku, ikut saja. Asik lo, tambah pengalaman dan tambah kepandaian. Tidak usah bingung tidak ada teman ngobrolnya karena waktu kita akan habis terpakai buat explore kamera dan obyeknya. Tidak ada kesempatan buat bengong.

Acara yang bertepatan dengan Ramadan itu diakhiri dengan buka puasa bersama di Hotel Neo Malioboro yang menunya selalu berlimpah dan enak-enak.

spacer

Hang Out At Gudang Kopi Yogyakarta

Lately, in every corner of Yogyakarta, various cafes can be found along with the rise of coffee lovers. Unlike the usual cafe, Gudang Kopi has photography nuances. Gudang Kopi, located on Affandi or Gejayan Street, is adjacent to one of the camera centers in Yogyakarta, Gudang Digital.

gudang kopi jogja


From the outside, the industrial impression has been seen in this cafe. When entering, we are treated to a variety of camera shots on the wall that make this cafe more photogenic. The design, which reflects young people and is instagrammable, makes this cafe comfortable for hanging out. Besides indoor and outdoor rooms, Gudang Kopi also has room for workshop activities. For Muslims, you don't need to worry if hanging out with friends approaches prayer time because Gudang Kopi also provides a prayer room on the top floor.

barista gudang kopi
6th place at Indonesia Barista Championship IBC 2019

Besides coffee, Gudang Kopi also provides a variety of menus for rice, pasta, pastry and cakes. So actually this cafe is not only suitable for drinking coffee and eating snacks but also for eating heavy foods. We can come here on an empty stomach. The taste of the food is adjusted to the Indonesian tongue. What does it mean to eat for Indonesians without rice even though now more and more people are avoiding rice?

Omurice, Rp 35.000,-

One of the foods that caught my eyes was Omurice. This omurice dish consists of chicken katsu, omelette, rice, creamy teriyaki sauce, norislaw and red cabbage which makes this dish very appetizing. This menu is suitable for people who like to eat a lot because it is served with a fairly large portion. Unfortunately, this menu has been taken by one of my blogger friends so I can't taste it. I almost took Aglio Balado but I thought I needed something with rice.

Also read: The Benefits Of Fasting In Ramadan

ikan dory dabu-dabu gudang kopi
Ikan Dory Dabu Dabu, Rp 35.000,-

Luckily I got Ikan Dory Dabu Dabu. This dish consists of rice, dory fish, and dabu-dabu sambal. To be honest, the sambal dabu-dabu is what attracts me. Dory fish with soft meat is very well matched with dabu-dabu sambal. This dish is also served with lime. In my opinion, adding lime to the dish is a smart choice because it makes the food flavorful with fresh seafood. This is even more delicious when eaten with dabu-dabu sambal. Sambal dabu-dabu is a typical Manado chili sauce. It tastes like sambal matah but is fresher because there are tomatoes. Sambal dabu dabu is quite spicy for me, but I still can eat it all up.

ice photocoffee es kopi
Ice Photocoffee, Rp 20.000,-.

There  were three kinds of ice coffee signatures that were introduced to us by Gudang Kopi. The coffee I chose is Ice Photocoffee. Ice Photocoffee is coffee that is served with brown sugar, vanilla and milk. For those who don't like bitter coffee, this coffee is perfect. Brown sugar makes this coffee sweet but not too sweet.

aglio balado gudang kopi
Aglio Balado, Rp 35.000,-

Gudang Kopi opens very early, at 7 AM, so we can come here for breakfast as well. In Jogja, we don’t have enough cafe choices which opens that early. I think it should be no problem to come here alone or with a bunch of friends.  It’s a friendly place.

Es Kopi Susu

Overall this cafe is interesting to visit. In addition to the beautiful design, this cafe also offers affordable price, tasty food and coffee that is suitable for all.


spacer