Kisah Inspiratif Mahasiswa UGM Pemilik Kedai Kiwae

By chord food - Monday, September 30, 2019

Beberapa waktu lalu, dalam mata kuliah Dasar Ekonomi dan Manajeman di jurusanku, aku mendapat tugas mewawancarai salah satu start up. Di sini aku berkesempatan untuk mewawancarai pemilik Kedai Kiwae, mas Latifriansyah Usman Ali yang juga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UGM, tentang struktur organisasi Kiwae. Namun karena itu merupakan tugas kuliah, aku tidak bisa membeberkannya di artikel ini tanpa seijinnya. Jadi, aku cerita sisi lainnya saja ya, semoga teman-teman terinspirasi dengan semangat dan kreativitasnya.

Paket Chikitos Rp 19.000,- berisi nasi, ayam, es teh dan mayonaise. Maaf es teh dan mayonaisenya kepotong.

FOOD PASSION


Mas Latif ini adalah kakak angkatanku di fakultasku, makanya aku beruntung sekali bisa berguru padanya. Meskipun wawancara tersebut merupakan tugas kuliah, tapi aku tidak hanya menganggapnya sebagai narasumber, melainkan juga sebagai guru. Guru bisnis makanan. Aku punya cita-cita mendirikan bisnis makanan sehat kelak. Ini merupakan kesempatan untuk menghubungkan antara teori yang kupelajari dari dosenku dengan praktik yang diberikan oleh kakak angkatanku. Aku bangga padamu, mas!


Sebagai mahasiswa, aku tidak ingin hanya belajar di bangku kuliah. Makanya tiap ada kesempatan menimba pengalaman langsung seperti ini, aku menyempatkan mendokumentasikannya di blog chordfood ini. Selain sangat bermanfaat buatku, aku juga berharap teman-teman bisa turut mengambil contoh dari para inspirator di bidang pangan, sesuai dengan passionku. 

STUDENTPRENEUR


Ada beberapa keuntungan menyambi usaha ketika sedang kuliah, antara lain belajar mengelola uang sendiri, belajar mandiri dan menghabiskan fase coba sana-sini. Dalam fase coba sana-sini, ada kemungkinan gagal, ada kemungkinan berhasil. Jika pun gagal, kita sudah tahu celahnya di mana sehingga kita bisa memperbaikinya terus-menerus. 

Aku tidak ingin ketika lulus cuma punya tumpukan buku tanpa tahu kegunaannya untuk apa. Penginnya sih, sebelum lulus, aku sudah mempraktekkan semua yang kupelajari di bidang pangan. Lebih senang lagi kalau bisa menjadi sarana buatku mandiri.

Kalaupun nanti aku kerja di perusahaan, bukan usaha sendiri, aku akan memiliki cara pandang yang berbeda karena sudah pernah berada di sisi pemakai bahan pangan. Misalnya nanti aku bekerja di pabrik tepung, aku bisa lebih mengerti apa yang diharapkan oleh para pengusaha makanan yang menggunakan tepung. Misalnya aku bekerja di perkebunan, aku bisa paham sayur, buah dan olahan pertanian lain seperti apa yang dibutuhkan konsumen.

Mas Latifriansyaf Usman Ali memulai usaha dari nol, tanpa bantuan orang tua atau hutang di bank. Ternyata, usaha modal semangat itu ada, tidak harus bermodalkan uang. Nah, semangat itu yang digunakan untuk mencari uang modal. Caranya bagaimana? Mas Latif memulung sampah, lo teman. Duh, aku nggak berani bertanya ke diri sendiri, mau tidak seperti itu? 

Ketika sudah terkumpul 500 ribu rupiah, tahun 2014 mas Latif mencoba berbagai macam usaha. Baru pada tahun 2017, mas Latif sukses dengan bisnis sate taichan. Keren lah, 3 tahun tidak menyerah sampai punya usaha yang cukup besar hingga beromset 80 juta per bulan. Dari jualan di pameran-pameran, mas Latif sempat punya kedai di Jl Pramuka dan Nologaten. Makanya kalau teman-teman mencari Kiwae di google map, masih menunjuk ke Nologaten, kan? Padahal sekarang sudah ada di Jl Agro.

Satu hal yang bisa diambil pelajarannya dari pengalaman mas Latif adalah jika memutuskan mengambil tema makanan populer, maka kita tidak boleh kering ide karena makanan populer itu cepat memberi keuntungan tapi juga cepat redup, digantikan oleh makanan populer lainnya. 

Ketika popularitas sate taichan menurun, mulailah mas Latif beralih ke Chikitos.

Burger Bucin. Maaf tidak bisa dikondisikan karena sudah saya gigit duluan baru ingat mau difoto. Maaf melulu ya soal foto ini? :(( Insya Allah mau belajar juga bikin foto yang bagus.

Kedai Kiwae


Kiwae terdengar seperti nama Korea, ya? Padahal itu boso Jowo, loh! Dari kata iki wae, yang artinya ini saja. Kedai Kiwae menjual Ayam Cheetos alias Chicken Cheetos atau Chikitos.

Menu yang ditawarkan menyasar ke anak muda karena kedainya dikelilingi kampus dan kos-kosan, antara lain Ayam Flamin Hot Cheetos, Ayam Original Cheetos. Ala Carte Original & Flamin Hot Cheetos dan beberapa paket hemat.

Kiwae Food juga akan membuka catering dan franchise. Jadi teman-teman yang punya acara di UGM dan UNY bisa pesan disini. Sedangkan teman-teman yang pengin belajar usaha, coba tuh mendaftar di franchise-nya.

Karena aku sudah merasakan Chikitos jadi aku bisa cerita kalau ayamnya itu besar dan enak. Waktu itu aku beli paket ayam, nasi, dan es teh seharga Rp 19.000,-. Aku pikir kalau ayam dibalut remah seperti itu pasti yang banyak remahnya dan bagian dalam ayamnya memiliki tulang yang besar. Ternyata enggak, lo. Dagingnya itu memang banyak.

Letak Kiwae sangat strategis, yaitu di bunderan selokan Mataram - Perikanan Universitas Gadjah Mada. Itu tuh, kalau teman-teman kos di daerah Gayamsari, lurus aja ke selatan ke arah Perikanan, Kehutanan dan Pertanian. Sebelum sampai bunderan dan menyeberang, belok kiri saja ke Kedai Kiwae yang pas berada di pojokan jalan. Petanya ada di bawah ini ya, yang ada tanda panah merah. Entahlah ini kok nggak muncul di google map. Tapi pesan online bisa kok, malah sering promo.


Kedai Kiwae
Jl, Agro No.3, Catur Tunggal, Depok, Sleman
Utara Fakultas Perikanan UGM
Whatsapp: 081-3931-33973
Buka: Senin - Sabtu jam 10.00 - 22.00
Bisa Go Food dan Grab Food
Instagram: @kiwaefood

Kepoin saja akun instagramnya itu karena sering ada promo ojek online. Kalau kalian upload foto menu Kiwae di instagram ada kemungkinan dipilih untuk mendapatkan hadiah lho. Minggu lalu aku mendapat gratis burger bucin. Senangnya, buat makan siangku di kampus. 

INSPIRING FOODPRENEUR


Beda dengan awal usaha dulu, mas Latif sekarang tidak mau sekedar mengejar uang. Ia ingin agar bisnisnya ini diakui, menyebar dan bermanfaat bagi masyarakat yang lebih luas. 

Mas Latif pernah menyabet juara 2 Kompetisi Mahasiswa tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Mas Latif juga menjadi mahasiswa pertama yang berhasil masuk 10 besar Foodstartup Indonesia 2018 bareng brand-brand besar di bidang produk makanan.


Dengan berkembangnya usaha tersebut, mas Latif bisa membuka banyak lapangan kerja seperti chef dan waiter. Selain itu, mas Latif juga bekerjasama dengan petani dan peternak. Secara tak langsung juga memberi keuntungan ke mas-mas ojek online, kan. Tak lupa kegiatan lain di luar bisnis seperti sosial dan kajian juga diadakan untuk keseimbangan hidup

Sekarang mas Latif dibantu 3 temannya dan mendapat dana bantuan pengembangan dari Program Wirausaha Mahasiswa UGM. Jadi teman-teman, ternyata kalau kita mau berusaha, pasti ada saja jalannya. Teman-teman yang tidak kuliah di UGM, coba telusuri website kampus kalian atau tanya langsung ke bagian kemahasiswaan. Aku yakin, kampus-kampus pasti siap membantu mahasiswanya yang mau bekerja keras.

Sumber tambahan:
https://krjogja.com/web/news/read/106085/Dari_Memulung_Mahasiswa_UGM_Kreasikan_Makanan_Hits_Chicken_Cheetos


  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Keren dan kreatif yah. Salut sama semangatnya yang dalam 3 tahun jatuh bangun

    ReplyDelete

Thank you for your comments. It will be published soon after being moderated.