Kisah Inspiratif Pendiri Chockles, Sarjana Cum Laude Yang Susah Mendapat Pekerjaan

Kisah inspiratif pendiri Chockles ini seharusnya aku tulis bulan Agustus lalu. Ternyata kuliah dan main musik sangat menyita waktu, jadi baru sempat menulis sekarang. Kisah ini tentang kakak angkatan, seorang sarjana yang lulus dengan predikat cum laude tapi susah mendapat pekerjaan. Akhirnya beliau sukses punya usaha sendiri bernama Chockles yang menyajikan minuman berbahan biji kakao asli dan gula aren atau gula semut.

chockles


Untuk postingan ini, aku dibantu artikel dari Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) dan Kopma (Koperasi Mahasiswa) UGM, ya. Soalnya waktu acara yang meghadirkan pendiri Chockles itu aku masih maba culun, takut-takut mau ambil foto dan bertanya, apalagi wawancara. Jadi aku cuma diam mendengarkan dan tidak mencatat jadi banyak detil yang lupa. Aku cuma ingat intinya dan bagian kisah serunya saja.

SARJANA WIRAUSAHA


Pendiri sekaligus pemilik Chockles ini bernama Rehan Abdullah Salam, lulusan Sarjana Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada tahun 2008 dengan predikat cum laude. Yaaah... aku masih SD waktu itu. Jadi aku panggil mas atau om, ya? Beliau hadir sebagai motivator di PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru) UGM.

Jadi maba di UGM jaman sekarang tu nggak ada opspek, gojlokan atau mos. Adanya PPSMB yang isinya pembekalan, motivasi dan latihan disiplin. Tugas banyak tapi nggak mengada-ada dan bisa dikerjakan barengan. Kating yang galak tetap ada dong, namanya juga manusia. Mamahku aja galak, tapi galaknya karena sayang seperti para kating itu. Buat benerin niat kami kuliah itu untuk apa. Jangan sampai mengecewakan orangtua dan negara (bagi yang menikmati subsidi atau beasiswa).

Di kampus ada mata kuliah Kewirausahaan. Dengan mata kuliah tersebut mahasiswa yang sudah mendapatkan banyak ilmu sesuai bidangnya diharapkan tidak hanya tergantung menjadi pencari kerja tapi juga bisa menjadi penyedia lapangan pekerjaan.

Belajar dari pelaku usaha itu sangat penting bagi mahasiswa baru agar bisa mengambil sisi positifnya dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Beruntung mas Rehan mau blak-blakan tentang pengalaman pahit akibat keputusan-keputusan hidupnya. Beliau tidak menutupi kegagalan yang pernah terjadi.

Selain ilmu yang memadai, kesuksesan sebuah usaha juga didukung oleh pengalaman yang cukup. Apa jadinya jika usaha dilakukan setelah lulus, bahkan setelah menikah, yang berarti nol pengalaman? Ini menjadi tambahan pelajaran menarik bagiku yang juga bercita-cita ingin punya restoran. Sebelumnya aku sudah menulis tentang usaha makanan yang sudah sukses ketika pemiliknya masih mahasiswa, belum lulus menjadi sarjana.


Salah satu alasan aku mendaftar di Fakultas Teknologi Pertanian adalah karena aku suka industri makanan, utamanya dari hasil pertanian. Kecenderungan menjadikan makanan sehat sebagai bagian dari gaya hidup menguat. Prospeknya sangat bagus di masa depan. Lagipula, siapa sih yang tidak butuh makanan? Dengan semua hal dikaitkan dengan industri 4.0, maka Teknologi Pertanian menjadi masuk akal buatku. Tapi rupanya prospek cerah tersebut baru ditemukan mas Rehan setelah beberapa kali jatuh bangun dengan usahanya. Wuih, jangan sampai terjadi padaku. Makanya aku harus benar-benar menyimak.

Jika saya hanya mendaftar di Teknologi Pertanian selepas SMA dan tidak melirik jurusan lain sama sekali, mas Rehan diterima di fakultas tersebut sebagai pilihan ketiga. Jadi awalnya memang beliau nggak suka suka banget kuliah disitu. Tidak seperti saya yang sampai nggak hura-hura selama 3 tahun di SMA demi memburu ranking. Meski nggak suka suka amat dengan pilihannya, tapi beliau lulus dengan predikat cum laude, loh. Jadi beban juga nih buatku yang suka banget dengan jurusan ini kalau tidak berprestasi seperti beliau. Hihihiii....

Jika lulus dari salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dengan IPK sangat tinggi, lalu mengapa sampai sulit mendapatkan pekerjaan?

SARJANA LULUS CUM LAUDE TAPI SUSAH DAPAT KERJA


Lulus cepat dari universitas terbaik dengan IPK sangat tinggi ternyata bukan jaminan mudah mendapatkan pekerjaan ketika status sudah menikah. Ini kenyataan meski aku tak paham. Mungkin karena aku masih bau-bau maba jadi pengetahuan belum banyak. Mungkin sementara aku pegang takdir sebagai penyebab semua ini. Hehee....

Setelah menjadi sarjana, mas Rehan memang tidak lantas mencari pekerjaan tapi malah menikah lebih dahulu. Sepertinya beliau sudah sangat yakin dengan masa depannya. Ternyata pada periode itu, pengumuman lowongan pekerjaan yang tersedia di berbagai media dan group alumni mensyaratkan status single. Jika melamar terus, mungkin beliau akan dapat pekerjaan juga. Masalahnya, beliau harus segera menafkahi keluarga. Tampaknya beliau juga sudah punya gambaran tentang sebuah bisnis sehingga beliau lebih tertarik untuk segera berusaha mandiri daripada meneruskan mencari pekerjaan.

Beliau memulai dengan usaha cafe sebanyak 2 kali dan semuanya gagal. Positioning cafe waktu itu tidak semudah sekarang dimana-mana ada sampai mblusuk, bahkan dikelilingi sawah. Waktu itu cafe yang lokasinya tidak strategis akan mati seperti cafe mas Rehan yang pertama. Sekarang, asal promosi kencang, orang bisa menemukannya dengan cepat melalui online map. Belum lagi gaya hidup mahasiswa sekarang yang menjadikan cafe sebagai tempat nugas (mengerjakan tugas), rapat atau sekedar hangout. Mungkin kalau dibuatnya sekarang, bisalah buat hidup.

Dari cerita itu aku mengambil pelajaran, kalau mau nikah muda, harus sudah punya penghasilan meski sedikit. Minimal UMR kali ya? Heheee.... Jika ingin punya usaha dibandingkan berkarir di kantoran, mulailah sejak mahasiswa, jangan tunggu lulus. Tentu saja usaha yang tidak mengganggu kuliah. Meski tidak besar, paling tidak sudah punya gambaran seperti apa jika nanti lulus sarjana dan 100% terjun di bisnis tersebut. Kadang ada juga loh orangtua yang tidak mengijinkan anaknya macam-macam kecuali belajar. Kalau sudah seperti itu, ya usahanya bisa dimulai setelah lulus sarjana tapi biarkan sampai mendapat profit dulu, baru menikah. Kelihatanya mudah ya mengambil kesimpulan seperti ini. Praktiknya nggak tahu juga, sih. Hmmm.... Kan aku masih kecil heheheee....

CHOCKLES, ES COKLAT 100% BIJI KAKAO ASLI


Chockles adalah pembalik nasib mas Rehan. Tapi proses menuju suksesnya cukup panjang dan penuh perjuangan dengan konsistensi dan determinasi yang tinggi.

Pasti banyak hal istimewa sehingga UGM dinobatkan menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Salah satunya adalah memiliki dosen-dosen terbaik. Dari mahasiswa baru yang nggak suka suka amat dengan teknologi pertanian, para dosen bisa memberi pencerahan pada mas Rehan sehingga menjelma menjadi salah satu pengamal ilmu teknologi pertanian terbaik. Ternyata keyakinan akan cerahnya bisnis es coklat tersebut berawal dari ketertarikan beliau akan kuliah Kewirausahaan tentang ilmu bisnis dan bisnis gula palem. Di mata kuliah tersebut mas Rehan mendapat nilai A. 

Makanya, kalau kuliah itu jangan cuma mengincar nilai A tapi juga bagaimana penerapan ilmunya dalam kehidupan nyata. Meski tampak hanya sekedar teori, tapi banyak kuliah yang diberikan berdasarkan riset langsung oleh dosen yang bersangkutan. Dosen-dosen tersebut tidak mengerjakan tesis berdasarkan membaca literatur saja. Mereka juga riset dan hasil riset tersebut harus diuji pula. Jadi, yang mereka sampaikan itu pastilah berdasarkan kenyataan. Hanya saja karena mereka sibuk mengajar dan penelitian, sedikit sekali yang nyambi bisnis untuk mengamalkan risetnya tersebut secara pribadi.

Alat untuk mengubah gula palem menjadi gula semut juga dikenal mas Rehan dari bangku kuliah. Sampai sekarang, mas Rehan menggiling kakao dan gula semut sendiri. Gula semut itu warnanya coklat dan bentuknya seperti butiran-butiran. Yang pernah beli Chockles pasti tahu karena ditaburkan juga diatas es coklatnya sehingga memberi sensasi rasa manis yang sedap.

Perjalanan bisnis mas Rehan tidak semanis es coklat buatannya. Pertama kali membuka usaha minuman itu pakai gerobak dorong, keliling seputaran UNY dikarenakan modal sudah habis sama sekali untuk 2 cafe gagalnya dulu. Bisa ditebak, mas Rehan pun mendapat banyak cemoohan. Entah bagaimana perasaan keluarganya. Mas Rehan menutup telinga dan fokus dengan ikhtiarnya menafkahi keluarga.

Selama setahun, mas Rehan hanya melakukan 2 kegiatan setiap hari, yaitu berjualan dan melakukan percobaan untuk mendapatkan formula minuman terbaik yang membuat Chockle menjadi sangat laris. Jadi, IPK cum laude itu bukannya tanpa arti. Itu melambangkan kecerdasannya. Kesuksesan hanya butuh waktu. Lagipula, sedikit banget usaha yang langsung sukses begitu didirikan di dunia ini.

Oya, sebenarnya aku sudah jadi penggemar Chockles sejak SMP. Biasanya aku beli di Indomaret sebelah SMPN 4. Meski aku nggak sekolah disitu tapi aku selalu mampir jika akan ke rumah eyangku yang lewat sini. Tentu saja aku tidak pernah beli satu, melainkan sekeluarga beli dengan pilihan rasa masing-masing. Favoritku yang classic dan pahit. Sebenarnya ini nggak pahit yang gimana gitu loh, melainkan pahitnya coklat. Ditambah dengan blenderan es yang seger, kebayang dong nikmatnya. Anehnya, harganya murah saja! Jauh dibawah es-es coklat encer yang ada di cafe-cafe.

Mas Rehan mengatakan tidak membuka franchise. Semua cabang ada dalam pengawasannya untuk menjaga mutu. Memang benar, sudah bertahun-tahun aku dan keluarga jadi pelanggan Chockles tapi rasa dan kekentalannya tidak berubah. Tapi sekarang kami lebih sering pesan melalui Go Food. Tiap kali suasana gerah, yang terpikir langsung buka aplikasi Go Food dan pesan Chockles.

Sepertinya susah untuk meniru semangat dan ketahanan mental mas Rehan tapi aku benar-benar terinspirasi dengan kisahnya yang tak pantang menyerah. Aku janji bakal menyimak baik-baik setiap mata kuliah yang berkaitan dengan pangan sampai menemukan satu bahan atau jenis makanan yang bisa aku kembangkan. Meski aku kurang tertarik pada minuman tapi aku masih punya waktu panjang untuk belajar lebih banyak lagi.

Terima kasih sharingnya mas Rehan. Semoga sukses terus dengan bisnisnya. Aamiin.

Sumber tambahan:
https://kopma.ugm.ac.id/2018/05/25/kopma-ugm-menilik-kesuksesan-chockles/
http://kagama.co/kisah-pahit-di-balik-manisnya-chockles-gula-aren

Share:
spacer

15 comments:

  1. Hwaaaa, ternyataaaa pengusaha lahir dari kondisi2 sebelumnya yg tdk mengenakkan ya Mba
    Keren! Bisa terus berjuang untuk struggling dalam hidup!
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah menulis kisah inspiratif ini. Jadi pelajaran buat anak2ku bahwa untuk hidup layak butih perjuangan dan pantang menyerah. Salut buat Rehan

    ReplyDelete
  3. Hebat banget, sangat menginspirasi sekali kisahnya. Pantas saja lulusan mahasiswa cumlaude :)

    ReplyDelete
  4. Mas Rehan ini idealis banget ya.. pantang menyerah dan teguh pendirian.. udah pas banget ini sih jadi pengusaha aja ngga usah jadi pegawai.. emang udah calon owner sejati.. value lain adalah kalo mau sukses ya harus fokus, termasuk menemukan satu bahan atau jenis makanan yang bisa dikembangkan untuk bisnis.

    ReplyDelete
  5. aku sering main ke jogja dan pernah diajak temen beli Chockles. emang enak sih sbg pecinta coklat aku bilang Chockles ini coklat banget... pahit nya khas coklat + manis yang oas,

    ternyata gini toh kisahnyaaa

    ReplyDelete
  6. Selalu terinspirasi kalau baca tulisan ttg wirausaha begini thanks ya mbak, mentalku masih lemah mau mulai usaha sendiri.. hahaha..kata orang jualan online aja cocok buat ibu2 tapi aku kok yo ndak pede..mmap kok jadi curhat.

    ReplyDelete
  7. setuju banget dengan jangan terburu-buru menikah tanpa ada penghasilan

    ReplyDelete
  8. Kisah yang menginspirasi sekali nih Mbak. Yah lulus cumlaude memang tidak menjamin kita untuk bisa dapat pekerjaan dengan mudah, tapi keren nih Mas Rehannya tak pantang menyerah malah buka usaha sendiri meski sempat gagal. Kisahnya bisa jadi pelajaran nih

    ReplyDelete
  9. Makasih kakak sudah memberikan motivasi keren dari kisah mas Rehan.
    Banyak pelajaran yang pantang menyerah.

    ReplyDelete
  10. Menginspirasi sekali ya , tapi aku penasaran nih sama pemiliknya hehe ga ada fotonya.

    ReplyDelete
  11. Blognya bagus
    Saya dulu kuliah di Jur Teknologi Hasil Pertanian Unila. Tapi waktu dulu dunia wirausaha rasanya hanya dibahas tentang pabrik2 besar dan seolah tak terjangkau. Kurang membahas industri kecil dan industri rumah tangga. Jadi lulusannyapun mindsetnya masih lebih ke lulus cari kerja ke perusahaan2 macam PTPN, Unilever dsb. Tapi mahasiswa sekarang sudah lebih kreatif dan berpikir mengembangkan produk sendiri.

    ReplyDelete
  12. Keren kisahnya ini, menginspirasi. Jadi untuk siapa pun yang sedang cari kerja, kalau belum diterima di perusahaan yang diincar, jangan berkecil hati. Siapa tahu jalannya bukan di sana kan, ya? Malah bisa lebih berhasil kalau jadi pengusaha.

    ReplyDelete
  13. Konsistensi dan persistensi Mas Rehan ini layak diacungi jempol. Anak muda jaman sekarang memang kudu inovatif plus mental baja ya kalau usahanya mau berhasil.

    ReplyDelete
  14. Huhuhu sarjana S2 tetapi susah dapat kerja itu mah saya hahaha
    Salut nih sama mas-nya yang tetap semangat dan mengembangkan bisnis minuman

    ReplyDelete
  15. Kisahnya sangat menginspirasi mbak bahwa tiada yang mustahil ketika memiliki jiwa yang baik dan semangat. Banyak jalan menuju Roma dan usaha yang baik adalah jawabannya.

    ReplyDelete

Comments are moderated. Thank you.